Recent Posts

Statistik Deskriptive

 

STATISTIK Bagian DESKRIPTIVE
1.      Pendahuluan
Dalam suatu penelitian seorang peneliti dapat menggunakan dua jenis analisis, yaitu analisa statistik (statictical analysis) dan analisis non-statistik (nonstatictical analysis). Bagian ini dan berikutnya dimaksudkan untuk menanggapi keperluan-keperluan analisa statistik.

Apa Statistik Itu?
Pada dasarnya, istilah statistik mempunyai dua macam pengertian, yaitu pengertian yang luas dan yang sempit. Dalam pengertian yang sempit, kata statistik digunakan untuk menunjukkan semua kenyataan yang berwujud angka-angka tentang kejadian khusus.
Contoh
Statistik kecelakaan lalu-lintas, statistik nikah-talak-rujuk, statistik kelahiran dan kematian, statistik penerimaan mahasiswa baru, dan sebagainya.

Dalam pengertian yang luas, yaitu sebagai teknik metodologik, kata statistik mempunyai arti sebagai cara-cara ilmiah yang dipersiapkan untuk mengumpulkan, menyusun, menyajikan, dan menganalisa data penelitian yang berwujud angka-angka.

Lebih jauh daripada itu, statistik diharapkan dapat menyediakan dasar-dasar yang dapat dipertanggung-jawabkan untuk menarik kesimpulan-kesimpulan yang benar dan untuk mengambil keputusan-keputusan yang baik.

Konsep Dasar Kerja Statistik
Statistik menggunakan tiga jenis konsep dasar kerja, yaitu:
(1)   Variasi.
Didasarkan atas kenyataan bahwa seorang peneliti selalu menghadapi gejala-gejala yang bermacam-macam, gejala yang bervariasi baik dalam jenisnya mupun dalam tingkatan besar-kecilnya.
(2)   Reduksi.
Memberikan kesempatan kepada peneliti untuk menyelidiki hanya sebagian dari seluruh gejala atau kejadian yang hendak diteliti. Penelitian semacam ini, dikenal dengan sebutan penelitian sampling (sampling study).
(3)   Generalisasi.
Walaupun penelitian dilakukan hanya terhadap sebagian dari seluruh gejala atau kejadian, namun kesimpulan daripadanya akan diperuntukkan bagi keseluruhan dari sebagian gejala atau kejadian yang diambil.

Ciri-Ciri Dasar Statistik
Statistik mempunyai tiga macam ciri dasar:
(1)   Bekerja dengan angka-angka
Angka-angka dalam statistik mempunyai dua arti, yaitu angka sebagai jumlah yang menunjukkan jumlah atau frekwensi, dan angka yang menunjukkan nilai atau harga. Dalam arti yang terakhir, angka masih mewakili atau menyimbulkan sesuatu kwalitas, misalnya angka kecerdasan siswa, nilai sekolah atau harga barang.
(2)   Bersifat obyektif
Kerja statistik menutup pintu bagi masuknya unsur-unsur subyektif yang dapat menyulap keinginan menjadi kenyataan atau kebenaran. Statistik sebagai alat penilai kenyataan tidak dapat berbicara lain kecuali apa adanya.
(3)   Bersifat universal
Dapat digunakan hampir dalam semua bidang penelitian. Penelitian-penelitian dalam wilayah ilmu-ilmu eksak, biologi, sosial, dan kebudayaan, semuanya dapat menggunakan statistik dengan keyakinan penuh.

Mengapa Perlu Statistik?
Kebanyakan dari kita mengira bahwa jika kita mempunyai kesimpulan dari hasil penelitian kita terhadap kejadian-kejadian yang terbatas, maka kesimpulan itu berlaku dengan sempurna untuk seluruh kejadian yang sejenis. Perkiraan semacam itu sama sekali tidak benar dan sangat menyesatkan (Sutrisno, 1981). Karena tata penelitian ilmiah yang menghasilkan konklusi-konklusi ilmiah selalu bertentangan dengan perkiraan tersebut.

Hampir semua penelitian ilmiah dilakukan terhadap sampel kejadian. Oleh karena sampel pernah didapat secara sempurna mewakili populasinya, maka semua generalisasi yang didasarkan kepada sampling study pastilah besar atau kecil mengalami kesalahan atau kesesatan, terkecuali jika keadaan kejadian atau gejalanya seragam atau homogin. Kenyataan seperti ini dikenal dengan sebutan kesalahan generalisasi (generalization errors).

Suatu generalisasi pasti mengalami kesalahan. Dari sini muncul suatu persoalan, yaitu “Bagaimana memperhitungkan besar-kecilnya kesalahan itu?”. Penyelesaian persolan inilah yang menjadi salah satu tugas terpenting dari statistik, yaitu: memperhitungkan kesalahan generalisasi.

Ilmu pengetahuan mengemban tiga tugas penting, yaitu:
(1)   Menerangkan gejala
(2)   Meramalkan kejadian
(3)   Mengontrol kejadian

Disini statistik mampu untuk memikul ketiga tugas tersebut, yaitu (1) untuk menerangkan gejala disediakan suatu bagian satistik yang disebut statistik deskriptiv, dan (2) untuk meramalkan dan mengontrol kejadian dipersiapkan suatu bagian statistik yang disebut statistik inferensial.

Penyajian Data Statistik
Bagaimana menyajikan data penelitian itu? Data penelitian itu harus disajikan secara teratur, singkat, mudah dimengerti, dan mampu memberikan gambaran yang tepat tentang suatu keadaan. Hal ini merupakan salah satu tugas statistik yang sangat penting.

Pada dasarnya, penyajian data statistik dapat disajikan dalam dua bentuk:
(1)   Penyajian dalam bentuk tabel-tabel.
(2)   Penyajian dalam bentuk grafik-grafik.

Selain kedua bentuk penyajian tersebut, masih ada satu bentuk penyajian lainnya dari hasil-hasil kerja statistik, yaitu bentuk perumusan, atau dalam statistik lebih sering dikenal dengan sebutan tekstular. Bentuk ini secara teratur selalu mengikuti semua penyajian data statistik yang sudah dianalisa dan disimpulkan.

Kesimpulan-kesimpulan statistik biasanya dirumuskan dalam kata-kata atau kalimat-kalimat. Sering kali kerja statistik hanya menghasilkan konklusi-konklusi yang dirumuskan dalam kata-kata tanpa disertai penyajian dalam bentuk-bentuk lainnya. Namun demikian, tidak jarang penyajian data statistik diberikan dalam bentuk yang bermacam-macam sekaligus, yaitu tabel, grafik, dan kesimpulan yang dirumuskan dalam kata-kata.

Variabel
Bahwa semua obyek yang menjadi sasaran penelitian merupakan suatu gejala. Gejala-gejala yang menunjukkan variasi, baik dalam jenisnya maupun dalam tingkatannya disebut sebagai variabel. Gejala yang bervariasi menurut jenisnya misalnya adalah gejala gender. Disini gender bervariasi dalam jenis pria dan jenis wanita. Contoh lain, jabatan juga merupakan gejala yang bervariasi menurut jenisnya, yaitu seperti petani, pedagang, guru, pegawai dan sebagainya. Sedangkan gejala yang bervariasi menurut tingkatan besar-kecilnya misalnya adalah penghasilan, kecerdasan, rasa keadilan, sosiabilitas dan semacamnya.

Suatu gejala yang hanya dapat dibagi menurut jenisnya disebut gejala diskrit, gejala kategorik, atau gejala nominal. Sedangkan gejala suatu gejala yang dapat digolong-golongkan menurut tingkatan besar-kecilnya disebut gejala kontinue.

Angka-angka yang diletakkan pada variabel diskrit adalah angka kwantitatif yang dihasilkan dari perhitungan atau penjumlahan. Sebagai contoh, wanita = 12 (orang), pria = 10 (orang). Angka-angka yang mewakili kwantitas itu disebut frekwensi atau jumlah dan diberi simbul f atau N.

Sebaliknya angka-angka yang diletakkan pada variabel kontinue, biasanya merupaakn angka-angka kwalitatif. Sebagai contoh, IQ = 110, Aljabar = 8, dan sebagainya. Angka-angka kwalitatif ini diperoleh dari suatu pengukuran, dan dalam statistik angka-angka itu biasa disebut score, nilai, atau harga, diberi simbul X, Y, atau huruf-huruf lainnya.

2.      Distibusi Frekwensi
Tabel Distribusi
Data-data hasil penelitian yang terkumpul dan belum disusun dengan cara apapun disebut data kasar atau data mentah. Namun jika data itu sudah disusun menurut urutan besar-kecilnya, baik dari atas ke bawah atau pun dari bawah ke atas, data itu disebut array.

Berikut ini adalah contoh data I.Q dari enam siswa yang belum disusun sebagai data kasar dan yang sudah disusun dari I.Q yang terkecil ke I.Q terbesar atau pun dari I.Q yang terbesar ke I.Q terkecil sebagai  array.

DATA KASAR



ARRAY
I.Q.



I.Q.

116




89


116

97




97


114

109




102


109

102




109


102

114




114


97

89




116


89

Dalam menghadapi sejumlah data penelitian yang besar, seorang peneliti biasanya membagi-bagi data itu ke dalam golongan-golongan atau kelas-kelas tertentu dan menghitung jumlah individu yang termasuk dalam tiap-tiap golongan atau kelas itu.

Suatu penyajian dalam bentuk tabel yang berisi data yang telah digolong-golongkan ke dalam kelas-kelas menurut keurutan tingkatannya beserta jumlah individu yang termasuk dalam masing-masing kelas itu disebut tabel distribusi, atau tabel distribusi frekwensi seperti yang ditunjukkan pada contoh di bawah ini.

Tabel Distribusi Frekwensi
I.Q.
f
125
129
2
120
124
3
115
119
7
110
114
12
105
109
21
100
104
18
95
99
20
90
94
11
85
89
5
80
84
1

Batas Kelas
Angka-angka seperti 120 – 124, yang ditunjukkan pada tabel distribusi frekwensi di atas disebut interval kelas, atau kelas atau interval. Angka-angka tersebut membatasi kelasnya dari kelas-kelas di atas dan di bawahnya dan disebut angka-angka batas kelas. Disini angka 120 merupakan angka batas bawah, sedangkan angka 124 merupakan angka batas atas.

Jika berat badan dicatat dalam satuan kg yang terdekat, maka golongan kelas 51 – 53 kg (misalnya) akan mewakili semua berat badan yang bergerak diantara 50,500 kg sampai 53,500 kg atau dengan bilangan-bilangan eksak: 50,5 – 53,5. Bilangan-bilangan eksak 50,5 – 53,5 ini merupakan batas nyata, sebab bilangan-bilangan itu dengan nyata-nyata membatasi kelasnya dengan kelas lainnya.

Batas nyata dapat dengan mudah diperoleh, yakni dengan cara menjumlahkan bilangan-bilangan batas yang berdekatan dibagi dua seperti:
sebagai batas dari kelas 51 – 53 dan kelas 54 – 56.

Terkadang batas-batas nyata digunakan untuk menandai penggolongan-penggolongan kelas dalam suatu tabel distribusi, seperti yang ditunjukkan dalam tabel berikut ini:

Berat Badan
71,5  ke atas
68,5
71,5
65,5
68,5
62,5
65,5
59,5
62,5
56,5
59,5
53,5
56,5
50,5
53,5
50,5  ke bawah

Pemakaian bilangan-bilangan batas nyata seperti yang ditunjukkan pada tabel di atas akan memunculkan kesulitan baru saat memasukkan frekwensi ke dalam kelasnya masing-masing. Misalkan diberikan sebuah data berat badan 56,5 kg, pencatatan frekwensi berat badan tersebut akan dimasukkan kemana? Masuk dalam kelas 53,5 – 56,5 ataukah dalam kelas 56,5 – 59,5?

Adanya kesulitan dalam pencatatan frekwensi pada bilanngan-bilangan batas nyata, maka muncul suatu pedoman, yaitu apabila digunakan batas-batas nyata sebagai pencatatan dalam penggolongan-penggolongan, hendaknya batas-batas itu tidak terdapat dalam pengukuran yang sebenarnya. Atau lebih amannya kita gunakan saja pencatatan penggolongan seperti yang ditunjukkan pada tabel di bawah ini.

Berat Badan
   72  ke atas
69
71
66
68
63
65
60
62
57
59
54
56
51
54
   50  kebawah

Lebar Kelas
Pada umumnya pencatatan dalam suatu tabel distribusi menggunakan penggolongan-penggolongan kelas sama lebarnya, seperti pencatatan:

51 – 53
54 – 56
. . .
69 – 71

Masing-masing kelas itu mempunyai lebar 3 (tiga), diperoleh dari hasil pengurangan batas atas nyata dengan batas bawah nyata.

Suatu kelas yang tidak jelas dalam menetapkan batasnya, seperti misalnya 72 ke atas dan 50 ke bawah dalam tabel di atas itu, disebut sebagai kelas terbuka. Dalam statistik kelas-kelas terbuka semacam ini sering kali menimbulkan kesulitan-kesulitan dalam perhitungan dan analisisnya. Oleh karena itu kelas-kelas terbuka sedapat mungkin untuk dihindari.

Tanda Kelas
Tanda kelas adalah titik tengah dari pada kelas, yang diperoleh dari jumlah batas atas dan batas bawah di bagi dua.

Contoh
Titik tengah kelas 51 – 53 adalah
Contoh
Tanda kelas 95 – 99 adalah

Untuk keperluan perhitungan-perhitungan statistik, semua observasi yang termasuk dalam suatu kelas dipandang menjadi milik atau diwakili oleh tanda kelasnya.
Contoh
Jika terdapat tiga orang yang berat badannya termasuk dalam kelas 51 – 53 kg, ketiga orang itu dipandang berat badannya masing-masing adalah 52 kg. Oleh karena itu, jika dicari berapa jumlah berat badan 3 orang yang termasuk dalam kelas 51 – 53 itu, tata kerja statistiknya adalah mengalikan frekwensi dengan tanda kelasnya, yaitu 3 x 52 kg = 156 kg.

Jumlah Kelas
Banyaknya kelas dalam distribusi disebut dengan jumlah kelas. Para ahli statistik menyarankan agar jumlah kelas yang dipakai tidak kurang dari 5 dan tidak perlu lebih dari 20. Pada umumnya para peneliti memakai jumlah kelas di antara 7 dan 15.

Jumlah kelas yang lebih dari 20 memberikan gambaran yang sangat jelas tentang ciri-ciri individu, tetapi tidak menunjukkan dengan tajam karakteristik grup. Sebaliknya jika jumlah kelas kurang dari 5, gambaran tentang karakteristik grup sangat menonjol, tetapi ciri-ciri individu menjadi kabur.

Tata Kerja Membuat Tabel Distribusi
Pada umumnya tata kerja membuat tabel distribusi adalah sebagai berikut:
(1)   Siapkan blanko tabulasi dengan kepala kolom:
a.       X (untuk interval kelas)
b.      Jari-jari (untuk menghitung frekwensi atau kelas)
c.       f (untuk menyalin frekwensi dalam bentuk jari-jari ke dalam frekwensi dalam bentuk angka).
(2)   Carilah angka yang tertinggi dan angka yang terendah, dan kurangkan. Beda antara angka yang tertinggi daengan angka yang terendah ini disebut range atau jarak nilai.
(3)   Bagi range itu menjadi sejumlah kelas yang layak (di antara 5 dan 20). Agar supaya tidak mempersulit pekerjaan-pekerjaan analisa ambil lebar kelas yang gasal (ganjil) seperti: 1, 3, 5, 7, dan sebagainya atau jika dimungkinkan ambil bilangan-bilangan kelipatan 5, seperti 10, 15, 25, dan sebagainya.
(4)   Masukkan kelas-kelas itu ke dalam kolom pertama blanko tabulasi, yaitu kolom “X”.
(5)   Hitung dengan jari-jari dan masukkan dalam kolom kedua blanko tabulasi semua frekwensi daripada bilangan-bilangan atau score yang termasuk dalam tiap-tiap kelas.
(6)   Hitung jari-jari dalam kolom kedua itu dan salin dalam angka dalam kolom ketiga, yaitu kolom “f”. Jumlah frekwensi dalam kolom ini harus cocok dengan jumlah individu dalam daftar yang asli.
(7)   Ganti blanko tabulasi itu dengan tabel distribusi yang sebenarnya. Dalam tabel distribusi kolom jari-jari tidak diperlukan sama sekali.

Ujilah tata kerja membuat tabel distribusi untuk data seperti yang ditunjukkan di bawah ini.


Distrubusi Frekwensi Kumulativ
Frekwensi kumulativ dari suatu kelas adalah frekwensi yang di hitung secara meningkat ke atas dari frekwensi kelas yang terbawa sampai kelas yang bersangkutan. Suatu tabel yang berisi frekwensi kumulativ di sebut tabel distribusi frekwensi kumulativ, disingkat distribusi frekwensi kumulativ, atau lebih singkat lagi distribusi kumulatif. Frekwensi kumulatif dari kelas yang teratas harus sama dengan jumlah frekwensi dalam distribusi.  

Contoh



Penghasilan Sebulan
f
fk
18.000 – 19.999
2
90
16.000 – 17.999
0
88
14.000 – 15.999
9
88
12.000 – 13.999
17
79
10.000 – 11.999
35
62
  8.000 – 9.999
8
27
  6.000 – 7.999
13
19
   4.000 – 5.999
6
6
       Total
90
-



Smart Card

 

Smart Card

Smart card didefinisikan sebagai sebuah kartu dengan IC (Integrated Circuit) yang tertanam di dalamnya, di mana IC tersebut digunakan untuk melakukan proses informasi, juga memiliki media penyimpanan dengan kapasitas tertentu. Mungkin sebelumnya Anda telah mengenal magnetic stripe card atau kartu magnetik, yang juga dapat berfungsi sebagai alat pembayaran. Kartu magnetik saat ini masih banyak digunakan kartu ATM di Indonesia, yang tentunya juga dapat berfungsi sebagai alat pembayaran. Smart card berbeda dengan magnetic stripe card yang merupakan teknologi lama.
 Magnetic stripe card memiliki ciri yang mudah terlihat, cukup melihat pita magnetic yang melekat pada kartu. Sementara pada smart card, komponen IC pada umumnya terdapat di dalam kartu atau berupa lempengan chip kecil. Tentu saja dengan menggunakan pita magnetik dan IC/chip secara bersamaan pada sebuah kartu, maka kartu tersebut dapat berfungsi sebagai smart card sekaligus magnetic stripe card.
Baik magnetic stripe card maupun smart card menyimpan informasi di dalam media penyimpanan masing-masing (pita magnetic pada magnetic stripe card, dan IC atau chip pada smart card). Untuk membaca maupun menulis informasi, diperlukan sebuah alat untuk membaca dan menuliskan informasi tersebut, yang disebut dengan card reader atau encoder. Contoh reader dapat Anda temui dengan mudah pada saat Anda pergi ke ATM, yang memiliki sebuah reader untuk membaca informasi pada kartu yang Anda masukan.

Demikian juga pada saat Anda menggesek kartu pada reader untuk melakukan pembayaran. Penggunaan besar-besaran dan booming smart card terjadi pada tahun 1990-an, saat diperkenalkan smart card berbasis SIM (Subscriber Identify Module), yang digunakan dalam ponsel GSM. Penggunaan kartu kredit maupun kartu debit sebagai alat pembayaran oleh Master- Card, Visa, maupun Europay semakin memperkenalkan smart card pada publik. Pengembangan selanjutnya adalah diperkenalkannya teknologi contactless pada smart card. Teknologi contactless memungkinkan komunikasi kartu dengan reader melalui frekuensi radio atau dikenal dengan RFID (Radio Frequency Identifi cation), sehingga antara kartu dan reader tidak perlu bersentuhan (contactless).
Lebih jauh, kita akan bahas mengenai contact smart card dan contactless smart card.

Contact Smart Card
Contact smart card memiliki chip kecil keemasan pada kartu. Saat dibaca oleh
reader, chip tersebut melakukan kontak dengan konektor yang dapat membaca informasi dari chip, dan dapat menuliskan informasi kembali ke dalam chip. Pada contact smart card, beberapa standar ISO telah dikeluarkan untuk mendefi nisikan bentuk fi sik, posisi, karakteristik, protokol, format perintah yang dikirim dan respon yang dikembalikan, ketahanan kartu, hingga fungsinya. Kartu ini sendiri tidak memiliki baterai Joko Nurjadi.  
Di dalam kisah Aladdin, terdapat sebuah lampu wasiat yang jika digosok dapat menghadirkan sosok jin sakti yang dapat mengabulkan permintaan. Berkat kemajuan teknologi, sudah sepantasnya Anda kini tidak perlu merasa minder dengan kemampuan lampu wasiat Aladdin. Saat ini, hanya dengan membuka dompet dan mencabut sebuah kartu, dan hanya dengan sebuah “gesekan”, perlahan Anda sudah dapat memiliki pakaian baru.

Teknologi SmartCard Rangkaian IC pada SmartCard.
Sebagai sumber tenaga, karena energi yang dibutuhkan akan dihasilkan oleh card reader, yang digunakan sebagai media komunikasi antara smart card dan host (misalnya komputer). Aplikasi yang melakukan proses, dapat Anda letakkan pada host/komputer,
bersamaan dengan data base atau tools yang diperlukan oleh aplikasi.

Contact less SmartCard
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, contactless smart card berkomunikasi dengan reader dan teknologi RFID. Di dalam contactless smart card terdapat tag RFID
atau transponder sebagai identifi kasi menggunakan gelombang radio. RFID juga dikenal

dengan istilah proximity atau proxy. Apakah keuntungannya dibandingkan dengan contact smart card? Contacless smart card bekerja lebih praktis, terutama untuk transaksi yang membutuhkan proses cepat, contohnya adalah penggunaan contactless smart card pada sistem transportasi seperti MRT (Mass Rapid Transit), di mana Anda dapat melakukan transaksi, tanpa perlu mengeluarkan kartu dari dompet Anda. Seperti pada contact smart card, contactless smart card juga memiliki klasifi kasi standar, yang memiliki dukungan berbeda pada range (jarak) tertentu antara kartu dan reader.
Terdapat beberapa standar internasional untuk mendukung aplikasi-aplikasi yang
spesifik.
Misalnya ISO 18000-3 digunakan sebagai standar tag high-frequency, dan ISO
18000-6 untuk ultra-high frequency. ISO 15693 merupakan standar yang populer, dan menggunakan high-frequency 13,56 MHz, yang secara luas digunakan untuk kartu kredit.
Contactless smart card juga tidak menggunakan baterai, tetapi contactless smart card memiliki induktor yang build-in untuk menangkap gangguan sinyal frekuensi radio,

dan menggunakannya sebagai sumber tenaga pada IC. Walaupun demikian, dimungkinkan sebuah contactless smart card memiliki baterai atau power supply internal, atau disebut de ngan tag RFID yang aktif. De ngan kemampuan ini, dimungkinkan jarak komunikasi hingga ratusan meter dengan ketahanan baterai mencapai 10 tahun, serta dapat mendukung kapasitas penyimpanan yang besar. Lebih jauh mengenai contoh penggunaan smart card yang telah diterapkan adalah Octopus card, yang telah diberlakukan di Hong Kong.
Octopus card merupakan contactless smart card yang digunakan untuk pembayaran elektronik secara online maupun offl ine. Octopus card tidak hanya dapat digunakan untuk sistem transportasi, tetapi juga sebagai alat pembayaran pada supermarket, toko, restoran, parkir, dan aplikasi POS (Point of
Sales) seperti service station dan vending machine. Pendek kata, hanya dengan satu
kartu, dapat difungsikan untuk berbagai keperluan pembayaran. Semakin menyaingi
lampu wasiat Aladdin, bukan? Bahkan tidak terbatas pada alat pembayaran, chip atau tag RFID juga telah digunakan pada paspor oleh banyak negara, sehingga memungkinkan perekaman keluar masuk history perjalanan antarnegara, mencakup lokasi, tanggal, dan jam. Kegunaan lainnya adalah implementasi RFID pada perpustakaan. Tag RFID dapat

dilekatkan pada buku, CD, dan produkproduk lainnya, di mana tag RFID dapat menyimpan informasi seperti judul buku ataupun klasifi kasi lainnya. Keuntungannya antara lain adalah Anda tidak perlu membuka buku atau cover CD untuk melakukan scan, sehingga dapat menghindari cedera otot. Anda dapat membayangkan betapa banyaknya item yang ada pada sebuah perpustakaan! Proses inventarisasi juga dapat dilakukan

dengan cepat, tanpa harus menurunkan atau menyentuh buku-buku pada rak. Tag RFID sering disebut sebagai pengganti teknologi barcode, dengan berbagai macam keunggulan RFID, misalnya kemampuan untuk menyimpan data lebih banyak dari yang dapat disimpan oleh barcode, sehingga mampu menyimpan history perpindahan sebuah barang dari satu lokasi ke lokasi lainnya, hingga sampai di tangan customer. Dengan sistem tracking seperti demikian, pencurian ataupun kehilangan data dapat dilacak. Penggunaan barcode pada POS (Point of Sales) seperti pada supermarket, juga dimungkinkan untuk digantikan dengan teknologi RFID. Dapat Anda bayangkan, kasir tidak perlu lagi melakukan scan karena akan dilakukan otomatis oleh reader. Walaupun hal ini tidak mungkin dilakukan, tanpa biaya investasi yang signifi kan untuk mengganti seluruh tag dan mengubah proses operasional. Pada bidang otomotif, Toyota telah memperkenalkan

Smart Key/Smart Start yang memungkinkan mobil mendeteksi kunci dengan jarak sekitar 1 meter dari sensor. Dengan demikian, pengemudi dapat membuka pintu dan menjalankan mesin dengan kunci tetap berada di kantong. Bahkan, dengan mengenakan tag RFID pada hewan peliharaan, Anda dapat menggunakannya sebagai identifi kasi, sehingga Anda dapat mencari posisi hewan kesayangan Anda jika hilang! Serta masih banyak lagi kegunaan lainnya. Sebagai intermezzo, sebuah perdebatan yang seru akan muncul jika chip tersebut ditanamkan pada manusia, terlepas dari pro dan kontra serta perspektif yang digunakan. Teknologi memang memungkinkan hal-hal ajaib, yang bahkan dulu tidak terpikirkan oleh Aladdin dengan lampu wasiatnya.



MIFARE

MIFARE merupakan suatu teknologi contactless smart card yang dikenal luas, dilengkapi dengan kartu dan reader. Teknologi MIFARE berdasarkan ISO 14443, dengan frekuensi 13.56 MHz. MIFARE banyak digunakan untuk aplikasi e-wallet, access control, ID card, ticketing, dan lain sebagainya. Dari sisi kapasitas, terdapat MIFARE

Standard 1k yang memiliki kapasitas penyimpanan 768 byte, terdiri dari 16 sektor,

di mana masing-masing sektor diproteksi oleh dua key yang berbeda (key A dan key

B). MIFARE Standard 4k memiliki kapasitas 3 kilobyte, yang terdiri dari 64 sektor.



Smart Card Reader.
Agar terdapat batas yang jelas, Anda perlu membuat suatu modul (mungkin Anda

perlu memberikannya nama, misalnya modul Smart) yang mengakomodasi kebutuhan

hingga tahap ini. Perintah-perintah programming yang digunakan bisa jadi berbeda jika

Anda menggunakan API atau SDK yang berbeda, tetapi fungsi dasarnya tetap sama. Selebihnya di luar modul Smart di atas, adalah aplikasi database yang umum, menyimpan

dan memroses data, melakukan perhitungan yang diperlukan, menampilkan laporan, dan lain sebagainya. Jika suatu saat Anda membuat aplikasi lain yang menggunakan smart card, Anda dapat menggunakan kembali (re-use) modul Smart di atas, dan berkonsentrasi pada proses bisnis di aplikasi dan database. Informasi di dalam smart card mungkin

memiliki format tertentu, misalnya tertulis dalam karakter hexadecimal. Untuk itu,

seperangkat library atau function konversi perlu Anda siapkan. Untuk mendukung keamanan, ada baik nya Anda melakukan enkripsi pada informasi penting yang ingin disimpan pada smart card. Dari sebuah aplikasi sederhana, bukan tidak mungkin berkembang menjadi aplikasi yang lebih rumit seperti contoh-contoh yang telah dijelaskan di atas. Dalam hal ini, segala kemungkinan yang dapat dipikirkan untuk menjadi celah keamanan sistem harus diantisipasi dengan baik.



Penutup

Penggunaan smart card dan tag RFID saat ini semakin meluas pada berbagai sektor. Tentu saja dibutuhkan perencanaan yang matang, saat sebuah sistem diputuskan melakukan migrasi atau perubahan menggunakan teknologi ini. Yang terpenting adalah pada akhirnya kita akan merasakan keuntungannya, misalnya untuk mengurangi kesalahan administratif, mempercepat proses, memberikan rasa aman, dan lain sebagainya. Untuk semua keuntungan itulah, teknologi seharusnya digunakan._ MIFARE UltraLight memiliki kapasitas 512- bit tanpa dukungan security, tetapi tentunya dengan biaya yang lebih murah.



Keamanan

Berbicara mengenai sebuah sistem, apalagi jika digunakan sebagai sistem pembayaran, maka sisi keamanan merupakan hal yang tak terpisahkan dari sistem itu sendiri. Sebuah risiko yang patut dipertimbangkan adalah keunggulan tracking yang dihasilkan oleh tag RFID dapat berpotensi terbaca secara luas, sehingga dimungkinkan pihak lain mengetahui lokasi yang mungkin bersifat privat atau rahasia, baik dalam kaitannya dengan kepentingan keamanan individu, perusahaan, atau militer. Tentu saja sistem yang ingin Anda terapkan dengan menggunakan smart card atau tag RFID, harus terlebih dahulu mempertimbangkan kemungkinan di atas ataupun risiko lainnya. Smart card sendiri telah dibekali dengan kriptografi secara hardware, dengan menggunakan

algoritma enkripsi (misalnya RSA, DSA, dan lain-lain) yang menghasilkan key unik. Hal ini menyebabkan smart card tidak dapat diduplikasi dengan mudah. Melalui kemasan yang baik pada kartu, data pada chip juga dapat dilindungi sehingga tahan terhadap debu dan air.



Aplikasi Smart Card
Jika dikaitkan lagi dengan Aladdin, maka customer bagaikan tokoh Aladdin yang memiliki keinginan untuk dipenuhi. Smart card bagaikan lampu wasiat yang siap digesek

setiap saat. Lalu siapa dong yang jadi Jin, alias pengabul permintaannya? Yang mendapat

peran Jin adalah Anda, para programmer! Baiklah, apapun sebutannya, memuaskan customer adalah tugas mulia. Apa saja yang harus Anda siapkan untuk membuat aplikasi

berbasis smart card? Hal pertama tentunya memahami spesifi kasinya. Untuk mudahnya, anggap Anda ingin membuat sebuah aplikasi absensi karyawan dengan menggunakan smart card. Tentu saja Anda dapat membuat aplikasi yang tidak menggunakan media kartu. Kartu hanya lah kemasan untuk tag atau chip-nya. Tetapi untuk mudahnya, kita akan berasumsi menggunakan kartu sebagai kemasannya. Untuk itu, setiap karyawan memiliki sebuah smart card agar dapat melakukan absensi. Sebuah card reader yang terhubung dengan sebuah komputer akan digunakan untuk membaca smart card tersebut, dan aplikasi Anda pada komputer tersebut akan melakukan proses pendataan yang

diperlukan. Dari sisi hardware, Anda harus mengenal atau menentukan spesifi kasinya, misalnya frekuensi yang digunakan (jika merupakan contactless atau RFID card), karakteristik dan kapasitas memory yang digunakan di dalam chip, dan spesifi kasi reader-nya. Dari sisi software, yang Anda butuhkan adalah interface yang mengirimkan output,dan diterima sebagai input pada aplikasi Anda. Interface ini dapat berupa API (Application Programming Interface), yang sering merupakan bagian dari SDK (Software Development Kit) yang disediakan oleh vendor hardware. Sedangkan “mantra” atau bahasa pemrograman yang Anda gunakan adalah bahasa pemrograman favorit Anda. Tentu saja jika Anda menggunakan SDK dari vendor, pastikan bahasa pemrograman

yang Anda gunakan didukung oleh SDK tersebut. Agar aplikasi Anda dapat berkomunikasi dengan card reader dan memperoleh input darinya, aplikasi Anda harus terlebih dahulu mengenali card reader. Untuk itu, diperlukan proses inisiasi dengan card reader Jika proses inisiasi telah berjalan, tugas berikut aplikasi Anda adalah menangkap

data yang diberikan oleh card reader saat sebuah smart card terbaca. Jika sebuah smart card terdeteksi, Anda mungkin perlu melakukan beberapa validasi data yang diizinkan

masuk dalam aplikasi. Mungkin Anda juga perlu mengambil beberapa informasi yang terdapat di dalam smart card, mungkin berupa nomor induk karyawan atau informasi lainnya. Informasi disimpan di dalam memory smart card berdasarkan blok-blok yang telah telah ditentukan. Jika diperlukan, aplikasi Anda dapat menuliskan kembali informasi pada lokasi blok memory tertentu pada smart card. Hingga langkah ini, beberapa perintah dasar yang harus Anda miliki berkaitan dengan hardware adalah perintah-pe rintah:



Staylone = 2 data base
Client server = 1 data base



Sumber : Internet